**BOJONG —** Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah momentum penting yang lahir dari keberanian anak-anak muda pada masa lalu. Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti bahwa perubahan besar pernah dimulai dari keberanian generasi muda untuk bersatu dan menentukan sikap.
Namun, setelah hampir satu abad berlalu, sebuah pertanyaan patut diajukan kepada pemuda hari ini: *apakah kita masih memiliki keberanian yang sama?*
Pemuda saat ini hidup di tengah perubahan yang jauh lebih cepat. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diperoleh, tetapi tantangannya juga semakin kompleks. Persoalan ekonomi, kesempatan kerja, pendidikan, lingkungan, pelayanan publik hingga ketimpangan sosial membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Sayangnya, dalam banyak keadaan pemuda masih lebih sering ditempatkan sebagai objek daripada subjek. Mereka diajak hadir ketika ada kegiatan, diminta meramaikan acara, tetapi belum selalu diberikan ruang yang cukup untuk ikut menentukan arah kebijakan.
Di sisi lain, pemuda juga harus berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Tidak cukup hanya menyalahkan keadaan. Jika ingin dipercaya memegang peran lebih besar, pemuda harus membuktikan kapasitas, menjaga integritas, berani menyampaikan kritik dan mampu menawarkan solusi.
Di sinilah ungkapan *“ditumbalkeun atawa numbalkeun sorangan?”* menjadi sebuah refleksi yang penting.
Jangan sampai pemuda merasa menjadi korban keadaan, tetapi pada saat yang sama justru secara sadar menyerahkan idealismenya demi kepentingan pribadi. Jangan sampai suara kritis hilang hanya karena mendapatkan posisi, fasilitas, atau kedekatan dengan pihak yang memiliki kekuasaan.
*Pemuda tidak harus selalu berseberangan dengan pemerintah, tetapi pemuda juga tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki.*
Kritik bukan berarti permusuhan. Perbedaan pendapat bukan berarti pembangkangan. Justru masyarakat membutuhkan generasi muda yang mampu menyampaikan kritik secara objektif sekaligus menghadirkan gagasan yang konstruktif.
Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini semestinya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang. Dari sekadar menjadi peserta kegiatan menjadi penggerak perubahan. Dari hanya mengomentari keadaan menjadi ikut menyelesaikan persoalan.
Langkahnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana: aktif mengawal persoalan di lingkungan, membangun ruang diskusi, menyampaikan aspirasi berdasarkan data, melakukan pengawasan sosial secara bertanggung jawab, serta mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sebab, sejarah tidak hanya membutuhkan pemuda yang pandai berbicara. Sejarah membutuhkan pemuda yang *berani mengambil sikap dan konsisten memperjuangkan apa yang diyakininya benar.*
Sumpah Pemuda 1928 telah membuktikan bahwa suara anak muda mampu mengubah arah perjalanan bangsa.
Kini giliran generasi kita membuktikan bahwa semangat itu belum padam.
*Jangan hanya menjadi generasi yang mengenang Sumpah Pemuda. Jadilah generasi yang meneruskan keberaniannya.*
*Dedi Supriadi Cakrabuana*
*Pemuda Bojong*





