BANDUNG, 2/10/2026 RadarNusaNews.Com — Kearifan budaya lokal Sunda dimanfaatkan sebagai media edukasi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai HIV-AIDS. Hal tersebut terlihat dari penelitian penggunaan video edukasi berbasis budaya “Sawer Pengantin” terhadap siswa SMPN 26 Kota Bandung.
Penelitian berjudul “Integrasi Budaya Lokal dalam Promosi Kesehatan: Efektivitas Video Edukasi ‘Sawer Pengantin’ terhadap Peningkatan Pengetahuan HIV-AIDS pada Remaja” dilakukan oleh Tati Ruhmawati dan Ridwan Setiawan dari Poltekkes Kemenkes Bandung serta M. Aris Rizqi dari Poltekkes Kemenkes Semarang.
Penelitian melibatkan 31 siswa kelas VIII. Edukasi dilakukan melalui video “Sawer Pengantin HIV-AIDS” yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Hasilnya menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan siswa dari 56,45 menjadi 95,16, atau meningkat 38,71 poin.
Analisis Paired Sample t-test juga menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan edukasi.

Luruskan Miskonsepsi HIV-AIDS
Video edukasi tersebut tidak hanya menyampaikan informasi mengenai HIV-AIDS, tetapi juga meluruskan berbagai miskonsepsi tentang penularan HIV.
Siswa diberikan pemahaman bahwa HIV dapat menular melalui aktivitas berisiko tertentu, seperti hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta transfusi darah yang tidak aman. Sementara berjabat tangan, berenang bersama, maupun beraktivitas sehari-hari bukan merupakan jalur penularan HIV.
Budaya Lokal Jadi Media Edukasi
Tradisi Sawer Pengantin yang sarat dengan nasihat kehidupan diadaptasi menjadi media audio-visual untuk menyampaikan pesan mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan perilaku berisiko, serta pentingnya menghindari stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).

Pendekatan berbasis budaya tersebut membuat materi edukasi lebih dekat dengan kehidupan sosial dan lingkungan budaya peserta didik.
Program ini juga dirancang berkelanjutan. Video edukasi “Sawer Pengantin” disebut telah memperoleh Sertifikat Hak Cipta Karya Rekaman Video dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI dengan Nomor Pencatatan 001303563.
Media edukasi dan buku panduan pencegahan diserahterimakan kepada perpustakaan dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMPN 26 Kota Bandung. Materi tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran PJOK serta kegiatan PMR dan Pramuka.
Selain itu, siswa dengan capaian pengetahuan tinggi diarahkan menjadi Peer Educator atau pendidik sebaya untuk membantu menyebarkan informasi HIV-AIDS yang benar di lingkungan sekolah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan kearifan lokal melalui media audio-visual dapat menjadi salah satu alternatif edukasi kesehatan bagi remaja. Model tersebut berpotensi dikembangkan dan disesuaikan dengan karakter budaya daerah lain untuk memperkuat promosi kesehatan dan pencegahan HIV-AIDS.
(Puput)





