Purwakarta | RadarNusaNews.Com – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Barat #003, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, menjadi sorotan setelah dikeluhkan salah satu orang tua siswa.
Keluhan tersebut muncul karena diduga porsi makanan yang disajikan tidak sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurut orang tua siswa tersebut, selama tiga hari terakhir menu MBG yang diberikan dinilai tidak sesuai dengan perhitungan yang dilakukan.

“Saya hitung, Telur 3 butir Rp 6 ribu, Jeruk 3 buah Rp 6 ribu, Susu kotak 2 Rp 6 ribu, Keripik bayam Rp 2 ribu, total keseluruhan Rp 20 ribu, porsi untuk anak SMP,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa untuk anak-anak TK, total perhitungannya hanya sekitar Rp 14 ribu per porsi.
Keluhan tersebut memunculkan dugaan adanya pemotongan (sunat) porsi atau anggaran makanan.
Klarifikasi Pihak SPPG
Menanggapi pemberitaan miring tersebut, Kepala SPPG Bojong Barat #003, Indra Nurwahyudi, langsung turun ke lapangan untuk memberikan klarifikasi dan memastikan kondisi sebenarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu komponen menu, yakni roti, mengalami keterlambatan pengiriman dari pihak suplayer.
“Seharusnya dalam paket tersebut terdapat tiga roti. Namun pada hari sebelumnya pengiriman baru datang sebagian.
Hari ini roti abon tiga sudah dikirim menyusul,” jelasnya saat melakukan pengecekan di dapur SPPG.
Menurutnya, keterlambatan tersebut telah dijelaskan kepada PIC sekolah agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kecamatan Bojong, Muhammad Wildan, ST, juga menginstruksikan pengecekan langsung ke dapur serta pengawalan distribusi ke sekolah.
Setelah memastikan kondisi di dapur, pihaknya turun langsung ke sekolah untuk mendampingi dan memastikan distribusi berjalan sesuai ketentuan.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan dan komitmen untuk mengawal program MBG agar tetap transparan serta tidak menimbulkan kekecewaan di masyarakat.
Pihak SPPG menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam pengurangan porsi, dan evaluasi terhadap suplayer akan dilakukan agar keterlambatan serupa tidak terulang kembali.
( Redaksi )





