BANDUNG, RadarNusaNews.Com — Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung melaksanakan penilaian Lomba Toilet Bersih 2026 secara serentak di sejumlah sekolah pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya hidup bersih dan sehat sekaligus mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, asri, dan bersih.
Salah satu sekolah yang menjadi sasaran monitoring, evaluasi, dan penilaian adalah SMP Negeri 55 Kota Bandung, yang berlokasi di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon.
Program ini sejalan dengan gerakan menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat sebagaimana terus digaungkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep S. Gufron. Melalui lomba tersebut, sekolah didorong tidak hanya menjaga kebersihan fasilitas sanitasi, tetapi juga menanamkan karakter positif dan tanggung jawab kepada seluruh warga sekolah.

Bagi SMPN 55 Kota Bandung, membangun budaya kebersihan merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Sekolah sebagai rumah kedua bagi peserta didik memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lomba Toilet Bersih Bukan Sekadar Kompetisi
Wasyanti, S.Pd., M.Pd., salah satu anggota tim penilai yang hadir di SMPN 55 Kota Bandung, menegaskan bahwa tujuan utama Lomba Toilet Bersih bukan semata-mata menilai kondisi fisik toilet, melainkan membangun kesadaran dan kebiasaan seluruh warga sekolah dalam menjaga kebersihan fasilitas bersama.
Menurutnya, toilet yang bersih dan nyaman harus didukung kesadaran serta tanggung jawab bersama. Peserta didik perlu dibiasakan menggunakan toilet dengan baik dan menjaga fasilitas yang tersedia agar tetap terawat.
“Orientasi dari lomba toilet bersih ini adalah terciptanya budaya warga sekolah yang mampu dan mau membiasakan diri menjaga toilet yang digunakannya agar selalu bersih dan nyaman,” ungkap Wasyanti.
Ia menjelaskan, membangun budaya bersih membutuhkan proses yang konsisten. Setiap peserta didik memiliki latar belakang keluarga dan kebiasaan yang berbeda, termasuk dalam hal menjaga kebersihan serta menggunakan fasilitas sanitasi.

Karena itu, sekolah memiliki tantangan untuk membangun kesadaran bersama tanpa mengabaikan perbedaan latar belakang peserta didik.
Wasyanti menegaskan bahwa kebersihan toilet bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan seluruh warga sekolah.
“Poin utama dari substansi lomba toilet bersih ini adalah proses pembangunan budaya. Sekolah harus secara konsisten membangun komitmen bersama, terutama agar peserta didik mau menggunakan dan merawat toilet dengan baik sehingga kebersihan serta kenyamanannya tetap terjaga,” tegasnya.
Sekolah Diharapkan Menjadi Agen Perubahan
Sementara itu, Iis Aisah, S.Pd., anggota tim penilai lainnya, berharap Lomba Toilet Bersih 2026 dapat menjadi stimulus positif bagi peserta didik untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Menurutnya, kebiasaan baik yang ditanamkan di sekolah hendaknya tidak berhenti ketika peserta didik meninggalkan lingkungan pendidikan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan di rumah dan ditularkan kepada masyarakat sekitar.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran formal, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Menjaga kebersihan toilet, lanjutnya, merupakan bentuk tanggung jawab pribadi sekaligus kepedulian terhadap fasilitas yang digunakan bersama.
Melalui pembiasaan tersebut, peserta didik diharapkan mampu menjadi contoh positif bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Kebersihan Menjadi Bagian dari Pendidikan Karakter
Pelaksanaan Lomba Toilet Bersih 2026 menjadi momentum bagi sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Menjaga kebersihan toilet bukan sekadar persoalan sanitasi, tetapi juga mencerminkan kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta penghargaan terhadap fasilitas umum.
Bagi SMPN 55 Kota Bandung, kegiatan penilaian ini menjadi kesempatan untuk terus meningkatkan kesadaran seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan nyaman.
Keberhasilan lomba tidak hanya ditentukan oleh kondisi toilet saat penilaian berlangsung, tetapi juga oleh konsistensi warga sekolah dalam menjaga dan merawat fasilitas tersebut setiap hari.
Melalui program ini, Disdik Kota Bandung diharapkan dapat mendorong terbentuknya budaya kebersihan yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan. Sebab, sekolah yang bersih bukan hanya menciptakan suasana belajar yang nyaman, tetapi juga membantu membentuk generasi yang disiplin, sehat, peduli lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial.
(Puput)
RadarNusaNews.Com





