Purwakarta | Radarnusanews.com – Perbaikan Jalan Cipedey kembali menuai sorotan. Material berwarna putih yang ditebar di badan jalan memunculkan tanda tanya besar di kalangan warga. Pasalnya, bahan tersebut dinilai tidak lazim digunakan sebagai tambalan jalan permanen.
Kepala UPTD 3 menyebut material itu merupakan batu kapur yang digunakan untuk mengikat tanah lembek sebagai tahap awal stabilisasi. Namun sejumlah warga menilai metode tersebut justru terkesan asal-asalan dan jauh dari standar perbaikan jalan yang seharusnya.
“Biasanya tambal jalan pakai hotmix atau minimal agregat yang dipadatkan, ini malah seperti tanah kapur ditebar begitu saja,” keluh salah satu pengguna jalan.

Secara teknis, perbaikan jalan yang baik umumnya diawali dengan perataan dan pemadatan tanah dasar, dilanjutkan dengan lapis pondasi agregat serta batu split ukuran 2–3 cm (23–35 mm) atau 5–7 cm (57 mm), sebelum akhirnya dilapisi aspal hotmix atau material setara. Tanpa tahapan tersebut, daya tahan jalan dikhawatirkan tidak akan bertahan lama.
Material yang terlihat di lokasi pun tampak belum terpadukan dengan baik. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa jalan akan kembali rusak saat diguyur hujan atau dilintasi kendaraan berat. Jika benar hanya sebatas penebaran kapur tanpa konstruksi lanjutan yang jelas, maka efektivitas perbaikan patut dipertanyakan.
Warga berharap pihak terkait tidak sekadar melakukan penanganan sementara yang berpotensi menghamburkan anggaran. Transparansi metode pekerjaan serta kejelasan spesifikasi teknis dinilai penting agar publik mengetahui apakah perbaikan tersebut benar-benar sesuai standar atau hanya tambal sulam sementara.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menunggu realisasi tahap lanjutan yang dijanjikan pihak UPTD 3. ( Red )





